jump to navigation

Tidak Ada Perbedaan Lebaran Tahun Depan Oktober 12, 2007

Posted by irvan132 in Keluh Kesah.
trackback

Ketika menonton Sidang Itsbat tadi malam, Menteri Agama RI menyatakan bahwa tahun depan umat muslim di Indonesia tidak akan mengalami perbedaan dalam merayakan Hari Raya Idul Fitri. Hal ini karena pihak Muhammadiyah dan Nahdlatul Ulama (NU) sudah melakukan pertemuan untuk menyamakan kriteria penentuan 1 Syawal.

Menurut saya, ini merupakan kabar baik bagi umat muslim. Pihak yang dirugikan karena perbedaan 1 Syawal adalah umat muslim sendiri. Perbedaan lebaran menyebabkan kekhawatiran dalam menjalankan puasa. Saat sekelompok orang menyatakan lebaran lebih awal, pihak lain yang belum berlebaran ragu menjalankan puasa. Isu seperti ini yang dapat memecah belah persatuan umat. Umat sering bingung apakah haram melakukan puasa saat terjadi perbedaan tersebut.

Titik terang tentang persamaan 1 Syawal tahun depan dimulai pada saat Muhammadiyah dan NU melakukan pertemuan di Kantor PBNU. Saya sendiri tidak tahu kesepakatan apa saja yang dicapai oleh kedua belah pihak. Yang jelas adalah penentuan kriteria 1 Syawal. Selama ini, kriteria penentuan 1 Syawal berbeda. Analogi saya seperti ini : asumsi saja ada warna merah (1 Syawal). Pihak NU menyatakan bahwa itu bukan warna hijau. Dan, pihak Muhammadiyah menyatakan bahwa itu bukan warna kuning. Semua pendapat yang dikeluarkan adalah benar, tetapi kriteria penilaian berbeda. Dari analogi di atas, kita berbeda dalam menentukan kapan lebaran. Pertemuan yang dilakukan bertujuan untuk menyamakan kriteria penentuan 1 Syawal tersebut.

Setelah pertemuan pertama di Kantor PBNU, pertemuan kedua akan dilakukan di Kantor Muhammadiyah. Rencananya, akan dilakukan pada Bulan Syawal tahun ini (1428 H). Puncaknya, pertemuan ketiga akan dilaksanakan di Kampus UIN Syarif Hidayatullah, Ciputat. Semoga saja pertemuan tersebut menghasilkan keputusan yang memuaskan. Keputusan yang tidak akan membingungkan umat. Dengan demikian, semua umat muslim Indonesia melaksanakan Hari Raya Idul Fitri bersamaan tahun depan (1429 H).

Salam,

-IT-

Komentar»

1. anas - Oktober 15, 2007

Pertmaxx,
Kalo saya selama hari itu belum nampak bulannya ya tetep aja puasa.
Perduli amat dengan orang yang ngitung udah lebaran, tapi juga belum liat bulan🙂

Btw, selamat Merayakan Hari Kemenangan
Mohon Maaf Lahir dan Bathin

2. ayahshiva - Oktober 15, 2007

kemarin lihat di tv, ada yang baru melaksanakan solat ied hari minggu, nah tambah kacau deh

3. ridwan - Oktober 16, 2007

tapi gini bos, kita harus buka mata n tau juga Islam di Indonesia ga cuma Muhammadiyah n NU. ada aliran2 aneh yang lebarannya 2 hari duluan atau sehari belakangan dari pemerintah. emang dikit tapi selalu diekspos media. tapi intinya itu 99% bakal bisa bareng, ga nyampe 100% lah.

4. Luthfi - Oktober 16, 2007

Umat sering bingung apakah haram melakukan puasa karena Hari Tasryik.

klo idul fitri mah bukan hari tasyrik
tasyrik kan pas dzulhijjah (id kurban)😛

5. irvan132 - Oktober 17, 2007

@ luthfi
oh iya, bener tuh. udah gw edit ini.
tumben lo jago masalah agama. hihihi

-IT-

6. aisar - Oktober 20, 2007

Iya, lucunya klo idul fitri aja bedanya.. perdebatan rukyat-hisab santernya pas idul fitri doang.. padahal dua metode itu menentukan kalender hijriyah sepanjang taun.. mestinya debat juga pas idul adha, maulud nabi, tahun baru, berangkat haji, dll yang bergantung pada kalender hijriyah..

7. Abu Faqihah - September 20, 2009

Bismillah, ketentuan masuknya Ramadlan dan keluarnya hendaknya dikembalikan kepada keputusan Pemerintah RI.
Karena Hari Raya, Puasa adalah ibadah jama’i yang dipimpin oleh imam dalam hal ini adalah penguasa. Rasulullah SAW bersabda:
الْفِطْرُ يَوْمَ يُفْطِرُ النَّاسُ وَالْأَضْحَى يَوْمَ يُضَحِّي النَّاسُ
“Hari Idul Fitri adalah orang-orang berbuka (bersama-sama) dan Idul Adlha adalah hari orang-orang menyembelih (bersama-sama).” (HR. Tirmidzi: 731 dari Aisyah RA, beliau berkata: hadits shahih gharib)
Rasulullah SAW juga bersabda:
الصَّوْمُ يَوْمَ تَصُومُونَ وَالْفِطْرُ يَوْمَ تُفْطِرُونَ وَالْأَضْحَى يَوْمَ تُضَحُّونَ
“Puasa adalah hari kalian berpuasa dan idul fitri adalah hari kalian beridul fitri (bersama-sama) dan idul adha adalah hari kalian menyembelih kurban (bersama-sama).” (HR. Tirmidzi: 633, Ibnu Majah: 1650 dari Abu Hurairah RA)
At-Tirmidzi berkata: “Sebagian ulama menafsiri hadits di atas bahwa berpuasa dan berbuka itu bersama jama’ah (imam kaum muslimin) dan mayoritas manusia.” (Tuhfatul Ahwadzi: 2/235).
Al-Allamah Abul Hasan As-Sindi Al-Hindi berkata: “Yang jelas dari makna hadits di atas adalah bahwa urusan ini (penentuan hari raya dan puasa) tidak ada celah bagi individu untuk menentukan masalah ini dan tidak boleh seseorang bersendirian dalam hari raya dan puasa, tetapi urusan ini harus dikembalikan kepada imam (penguasa) dan jama’ah masyarakatnya dan wajib bagi masing-masing individu untuk mengikuti penguasa dan masyarakatnya. (Hasyiyah Ibni Majah As-Sindi:3/431)
Imam yang memiliki legalitas adalah Pemerintah melaului Depagnya, bukan PBNU, PP Muhammadiyah, PP Persis, mursyid thariqat atau Amir LDII, karena melihat tafsir ayat “WA ULIL AMRI MINKUM” tentang pemerintah yang wajib dita’ati(QS. An-Nisa: 59) yang merujuk pada penguasa yang MAUJUD (memiliki legalitas, aparat, perangkat) bukan Imam yang MA’DUM (abstrak) seperti pimpinan berbagai organisasi atau sekte.
Menurut Ibnu Taimiyah bahwa kalau ada seseorang melihat hilal sendirian dan persaksiannya ditolak oleh pemerintah dengan alasan apapun maka ia tetap MENGIKUTI KEPUTUSAN PEMERINTAH. (Lihat Majmu’ Fatawa: 6/65)
Yang demikian karena ijtihad ini (tentang hari raya) tidak menjadi tugas individu atau kelompok tetapi sudah menjadi IJTIHAD PENGUASA dalam rangka menyatukan kaum muslimin.

Pada jaman pemerintahan Umar bin Khathtab RA suatu waktu ada 2 orang melihat hilal Syawal kemudian salah satunya tetap puasa (karena tidak ingin menyelisihi masyarakat yang masih berpuasa) yang satunya berhari raya sendirian. Ketika permasalahan ini sampai kepada Umar RA maka beliau berkata kepada orang yang berhari raya sendirian: “Seandainya tidak ada temanmu yang ikut melihat hilal maka kamu akan saya pukul.” (Majmu’ Fatawa: 6/75) Dalam riwayat lain akhirnya Umar meng-isbat bahwa hari itu adalah hari raya dan menyuruh kaum muslimin unuk membatalkan puasa mereka berdasarkan kesaksian 2 orang tersebut. (Mir’atul Mafatih: 12/303-304)
Suatu ketika Masruq (seorang tabi’in) dijamu oleh Aisyah RA, ia berkata: “Tidak ada yang menghalangiku dari puasa ini (Arafah) kecuali karena takut ini sudah Idul Adha.” Maka Aisyah menolak alasannya dengan mengatakan: “Idul Adha adalah hari orang-orang beridul adha bersama-sama dan idul fitri adalah hari orang-orang beridul fitri bersama-sama.” (Silsilah Shahihah Al-Albani: 1/223) Ini karena Masruq telah menyendiri dari puasanya penduduk Madinah.
Suatu ketika Yahya bin Abu Ishaq (seorang tabi’in) melihat hilal Syawal sekitar dhuhur atau lebih dan ada beberapa orang yang ikut berbuka dengannya. Kemudian ia dan beberapa orang mendatangi Anas bin Malik RA (sahabat Nabi SAW) dan memberitahukan kepada beliau perihal rukyat hilal Syawal dan beberapa orang berbuka (membatalkan puasanya) pada hari itu. Maka beliau berkata: “Adapun aku maka telah genap aku berpuasa 31 hari karena Al-Hakam bin Ayyub (penguasa ketika itu) telah berkirim surat kepadaku bahwa beliau berpuasa sebelum puasanya orang-orang.Dan aku benci untuk berbeda (berikhtilaf) hari raya dengan beliau dan puasaku akan aku sempurnakan sampai nanti malam.” (Zaadul Ma’aad: 2/37)
Dan yang semakna adalah kasus penolakan Ibnu Abbas RA (sahabat Nabi) terhadap kesaksian Kuraib (tabi’in) yang telah merukyat hilal Syawal di Syam bersama Mu’awiyah RA (sahabat Nabi) pada hari Jum’at karena bertentangan dengan puasa dan hari raya warga dan otoritas kota Madinah yang berhari raya Sabtu.Dalam kasus ini Kuraib menyendiri dari penduduk kota Madinah. (Subulus Salam: 2/462)
Maka saya berpesan pada pemilik situs ini agar menyampaikan tulisan saya ini kepada mereka-mereka yang egois yang bangga dengan ijtihadnya sendiri baik dengan hisab atau rukyat dalam keadaan menyelisihi isbatnya pemerintah maka sadar atau tidak mereka telah berupaya memecah belah umat.
JIka orang-orang egois itu bertanya bahwa kadang-kadang penguasa bertindak tidak adil seperti menolak persaksian rukyat karena beda madzhab atau alasan politis dsb?
Maka Rasulullah SAW menjawab:
يُصَلُّونَ لَكُمْ فَإِنْ أَصَابُوا فَلَكُمْ وَإِنْ أَخْطَئُوا فَلَكُمْ وَعَلَيْهِمْ
“Mereka (penguasa) itu shalat untuk kalian. Jika ijtihad mereka benar maka pahalanya untuk kalian, kalau ijtihad mereka keliru maka pahalanya tetap atas kalian dan dosanya ditimpakan atas mereka.” (HR. Bukhari: 653)
Semoga ini dapat menjadi bahan renungan ditengah-tengah upaya penyatuan hari raya kaum muslimin Indonesia.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: