jump to navigation

Engineering Kuno dan Moderen November 26, 2007

Posted by irvan132 in Uncategorized.
trackback

Sekarang, perkembangan dunia sastra cukup pesat. Salah satu bagian dari sastra adalah menulis. Menulis dalam hal apa saja, baik itu puisi, cerita, jurnal, laporan, makalah, dll. Dengan menulis, kita dapat berkomunikasi dengan orang lain.

Kali ini, saya akan membahas tentang menulis laporan maupun makalah (khusus engineering). Sebagai mahasiswa, saya sangat akrab dengan keduanya. Apalagi jika mahasiswa jurusan science, laporan praktikum tentu sudah menjadi “makanan” sehari-hari. Di dalam menulis, diperlukan teknik-teknik yang baik agar maksud dari tulisan dimengerti oleh pembaca. Saya tidak akan membahas panjang lebar bagaimana teknik menulis yang baik, anda dapat mencari referensinya di internet saja.

Yang ingin saya sampaikan adalah menulis tidak hanya sekadar mementingkan isi saja, tetapi teknik tulisan juga harus baik. Saya kurang setuju pendapat teman saya yang mengatakan bahwa isi tulisan adalah segala. Isi memang penting, tetapi tanpa teknik penulisan yang baik, isi tidak akan bermakna. Saya analogikan tulisan sebagai sebuah kado. Kado (isi tulisan) yang menarik dapat dilihat dari bagaimana cara mengemas (teknik menulis) kado tersebut. Sebagian orang akan lebih memilih kemasan kado yang menarik (ada pita misalnya) daripada kemasan kado yang biasa-biasa saja. Di sini, saya tekankan bahwa bukan berarti kemasan yang baik akan mencerminkan kualitas isi yang baik pula. Bukan itu. Inti analogi tersebut adalah keseimbangan antara isi tulisan dan teknik penulisan.

Kembali ke pernyataan teman saya itu. Saya kurang setuju tentang isi adalah segalanya. Kalau begitu, untuk apa ada standar penulisan jurnal seperti format IEEE, khusus untuk jurusan Teknik Elektro. Bukankah standar berfungsi untuk menyamakan format dan teknik penulisan? Tanpa standar, orang akan menulis seenaknya saja. Satu lagi, untuk apa dibuat Ejaan Yang Disempurnakan (EYD)?

Kalau menulis hanya mementingkan isi saja, itu zaman dulu. Orang hanya mementingkan isi karena memang orang yang berteknik dalam menulis masih sedikit. Jadi, mereka lebih mengutamakan isi, walaupun dalam kenyataannya isinya hanya mereka saja yang mengerti. Di zaman moderen sekarang, kita harus memberikan porsi yang seimbang antara isi dan teknik penulisan. Dengan teknik menulis yang baik, isi tulisan akan lebih dimengerti orang lain.

Sudah saatnya kita meninggalkan zaman engineering kuno.

Salam,

-IT-

Komentar»

1. ikram - November 27, 2007

Tapi angan juga mengedepankan teknik menulis dibanding isi…

2. pebbie - November 27, 2007

nggak ngerti nih, memang teknik menulis yang dimaksud sama tulisan ini seperti apa sih? apa bedanya isi, format, dan teknik?

3. reditya - November 27, 2007

sama kayak pebbie, aku juga bingung😀

ini jaman engineering kuno dimana orang2 lebih mentingin isi itu acuannya jaman siapa,bob? newton? plato? archimedes? jaman orang nulis artikel masih di daun lontar? contoh orang-orang yang cuman mentingin isi di jaman engineering kuno itu siapa bob? apa ini berarti engineer jaman dulu cuek sama teknik penulisan?

4. ridwan - November 27, 2007

bob lagi ngacau nih. nonton dorama mulu sih lo. wakakakak….😛

5. Irvan - November 27, 2007

@ ikram
wow, angan emang ga bisa dibatasi oleh apapun.🙂

@ pebbie
hehehe. gini, ada teknik menulis dan ada isi tulisan. maksud gw di tulisan ini adalah jangan terlalu mementingkan isi dalam menulis sesuatu, kita juga harus memperhatikan teknik penulisan. orang yang sudah “jago”, biasanya ngobrol dengan bahasa mereka sendiri (alias bahasa planet). dampaknya, orang lain ga bisa mengerti apa yang ditulisnya jika tidak ada teknik penulisan yang baik. bedanya isi, format, dan teknik menulis jelas-jelas beda. makanya ada kuliah yang namanya PKIT.😛

@ reditya
wah, jangan terlalu berekspektasi dengan judul. judul itu cuma sekedar analogi aja. maksud gw dengan zaman engineering kuno adalah dimana orang2 “jago” hanya ngomong dengan bahasa mereka sendiri. akibatnya, orang yang tidak satu ilmu dengan mereka, kurang mengerti apa yang mereka omongkan. ini juga karena mereka menulis “ilmunya” itu tanpa ada standar teknik penulisan yang baik.
bukan berarti zaman dulu orang cuek ama teknik penulisan, tapi masih sedikit aja. jadi, maksud gw tuh ada keseimbangan antara isi dengan teknik penulisan agar orang lain mengerti dengan isi tulisan yang dimaksud.
oke ya?😀

@ ridwan
hihihi, Raja Dorama ITB komen.😛

-IT-

6. reditya - November 27, 2007

@ikram dan bob
sepertinya bukan angan deh itu.. curiga itu salah ketik, mestinya jangan ketulis angan😀

@bob
oke deh bob😀 tapi tetep aja bingung, apa contoh konkritnya.. mungkin kalo teknik verbal (bukan tulisan), dimana orang gak bisa ngomongin tentang “ilmu”nya dia dengan baik kepada pendengar (tidak komunikatif) walaupun dia jago, contohnya udah banyak. semisal, dosen yang pinter banget tapi kalo ngajar susah dingertiin mahasiswa..

tapi kalo orang engineer jago, yang tulisannya gak bisa dimengerti, biasanya karena emang ilmu kita gak nutut untuk mengerti tentang ilmu yang dia paparkan (kalo diliat dari perspektif pembaca)..

7. deethalsya - November 27, 2007

ah.. ngomongin ttg teknik yah???
maaf, dt kuliah di ekonomi…
gak ngerti gituan…:mrgreen:

*tampang polos*
😆

8. irvan132 - November 27, 2007

@ reditya
wah, ga tau juga kalo mas ikram salah tulis.😀
masuk akal yang lo bilang kalo dari perspektif pembaca. tapi coba pandang dari sisi engineer jago tersebut, ga enak juga kalo ilmu/idenya yang “berkelas” tidak bisa dimengerti oleh orang lain. kan sayang tuh. udah capek2 kerja keras, eh tujuannya sendiri kurang tercapai.😀

contoh kasus aja:
kalo ga salah pak budi yang cerita. kalo ada orang yang tidak jadi mengambil gelar PhD karena orang ini berpikir kalo thesisnya ini hanya dibaca oleh beberapa orang saja. yang ngerti aja tentunya.
lalu dia berpikir lebih baik saja membuat suatu karya yang dapat dibaca oleh jutaan orang (change the world) daripada hanya tumpukan kertas yang cuma dibaca oleh beberapa orang saja. makanya dia ga jadi PhD, tapi sukses di dunia IT. tapi, gw lupa siapa ini orangnya.😀

-IT-

9. irvan132 - November 28, 2007

@ deet
justru ini malah kurang ada tekniknya. ini cuma membahas masalah tulis-menulis aja.🙂

-IT-

10. ikram - Desember 2, 2007

makasih reditya untuk koreksinya. saya memang salah ketik, maksudnya “jangan”.

11. ikram - Desember 2, 2007

maklum terburu-buru🙂


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: