jump to navigation

Membudayakan Riset di Kampus Maret 29, 2008

Posted by irvan132 in Kampus.
Tags: ,
trackback

Ternyata contek-mencontek masih menjadi persoalan yang sampai saat ini belum ada jalan keluarnya. Jangankan mencari solusi, mencari kesamaan pendapat tentang apakah mencontek itu merupakan perbuatan yang baik/buruk saja masih sulit. Tentang baik atau buruk, semua orang berpendapat. Seperti biasa, ada yang pro dan kontra. Akan tetapi, yang akan saya bahas di sini adalah bagaimana cara melupakan mencontek dengan membudayakan riset di kalangan mahasiswa.

Sudah kita ketahui bersama bahwa mencontek sudah menjadi budaya di kalangan mahasiswa sekarang. Terlepas baik/buruk, semua orang rata-rata pernah mencontek. Walaupun, ada juga mahasiswa yang tidak pernah mencontek selama kuliah. Salut untuk mereka yang tidak mencontek.😛

Sepertinya budaya mencontek ini muncul baru-baru ini saja. Maksud saya adalah bahwa dahulu masih ada rasa malu untuk mencontek. Akan tetapi, sekarang keadaan terbalik. Malah malu ketika tidak mencontek. Ironis. Kalau menurut saya, banyak faktor yang menyebabkan hal ini. Salah satunya adalah sistem. Saya menyebutkan di atas bahwa mencontek sudah menjadi budaya. Dan, budaya itu diciptakan oleh sistem yang ada. Tak berlebihan jika saya menyebutnya sebagai kesalahan sistem. Sebaik apapun seseorang itu, jika dia masuk ke sebuah sistem yang “rusak”, kemungkinan besar orang tadi akan “rusak” pula.

Kemungkinan-kemungkinan seperti itu yang harus diminimalisasi. Seperti halnya mencontek, dia bisa hadir karena ada kemungkinan ke arah itu. Secara logika, kalau kemungkinan-kemungkinan seperti itu bisa dikurangi, budaya mencontek bisa terkikis dan sistem “rusak” bisa diperbaiki. Salah satu upaya yang ingin saya usulkan untuk jurusan saya adalah menumbuhkan dan membudayakan riset. Riset di sini jelas. Ada masalah, hipotesis, pengujian, analisis, kesimpulan awal, analisis, kesimpulan akhir. Tidak lupa, hasil riset bisa dijadikan paper yang berguna.

Keuntungan riset banyak sekali. Saya tidak mampu menyebutnya satu persatu.😛 Yang menurut saya penting adalah pembelajaran ilmu, studi kasus, dan menulis secara rutin. Jika melakukan riset, harus ada dasar-dasar ilmu yang menunjang. Ini meningkatkan budaya belajar. Proses pembelajaran akan terjadi. Riset tanpa ilmu adalah BOHONG. Berikutnya, mengenai studi kasus. Studi kasus membentuk mahasiswa lebih peduli terhadap permasalahan yang terjadi di lingkungannya. Dengan riset, mahasiswa akan memecahkan masalah-masalah yang sedang terjadi. Jadi, ilmu yang didapat bukan sekadar teori. Ada aplikasi yang berguna terhadap masyarakat. Yang terakhir adalah belajar menulis. Riset yang baik adalah riset yang terdokumentasi dengan baik. Dengan adanya dokumentasi, mahasiswa dilatih untuk menulis. Di samping itu, dokumentasi merupakan alat utama untuk mengetahui sejauh mana riset yang dilakukan dan peningkatan apa saja yang bisa dilakukan dari riset sebelumnya.

Langkah konkritnya adalah ketika dosen menargetkan setiap mahasiswanya mengeluarkan satu paper tentang riset terhadap salah satu mata kuliah setiap semester. Tidak semua mata kuliah yang diambil mahasiswa harus mengeluarkan paper. Akan tetapi, jurusan membuat kebijakan khusus ada mata kuliah tertentu yang mewajibkan mahasiswa mengeluarkan paper. Tentu saja mata kuliah yang aplikasinya sedang ramai digunakan saat itu. Dengan demikian, setidaknya di dalam 1 semester, ada 1 paper yang dikeluarkan mahasiswa. Tidak hanya mahasiswa yang akan melupakan budaya mencontek, tetapi sistem (mahasiswa, dosen, dan pembuat kebijakan) juga akan selalu up to date mengenai perkembangan ilmu baru. Dinamis.

Sebenarnya, masih banyak cara lain untuk “melupakan” budaya contek-mencontek. Pendekatannya banyak sekali. Kebetulan saja saya mengambil tema riset karena menurut saya riset itu menyenangkan. It’s fun, Guys! Saya baru menyadari itu sekarang. Ini disebabkan karena para dosen saya kebanyakan memberikan Ujian Tengah Semester (UTS) tentang riset yang sesuai dengan materi kuliah. Mungkin kedepannya, UTS tertulis sudah tidak relevan lagi dengan kebutuhan masa depan. Kemampuan seorang mahasiswa diukur berdasarkan hasil riset mereka.😀

Selamat Datang Riset!

Salam,

-IT-

Komentar»

1. iwansulistyo - Maret 29, 2008

Benar, Mas.
Aku cenderung memilih UTS ataupun UAS yang bikin paper aja.🙂
Itu lebih memberikan ruang buat kita agar bisa sebanyak-banyaknya menumpahkan gagasan dan tetep mengutip gagasan pakar dari banyak buku, serta menilik temuan-temuan pada pelbagai penelitian sebelumnya.

Aku rasa, itu lebih dinamis dan tidak kaku.
Rasanya, ujian tulis di kelas, ga cukup waktu dan tidak memuaskan.
Memang ujian tulis di kelas harus dilihat dari segi relevansinya dgn bidang/disiplin ilmu masing-masing.

Pengembangan riset itulah yang masih mendapat perhatian yg minim di negeri ini.. Itu sangat kita sayangkan.

Yang jelas, setidaknya, kita mulai dari diri sendiri dgn cara melakukan riset kecil-kecilan, kendati dihadapkan dgn anggaran yg minim….

kapan mulainya? Ya kini dan saat ini juga. Dan itu belum terlambat untuk sebuah tujuan akbar di hari mendatang….

Aku optimis, semakin cepat gelap, maka kian cepat pula mentari muncul memancarkan sinarnya….

2. damarberlari - Maret 29, 2008

topik hot di civitas dibawa kemari,, mantap.

3. realylife - Maret 29, 2008

sekarang lagi diklat grafika , mengenang riset yang tak pernah sampai waktu kuliah dulu

4. reditya - Maret 29, 2008

di jepang, mahasiswa taun keempat dapet satu kursi di lab, dan di sana dia bisa full selama setaun (bahkan lebih sering lebih karena lanjut master dan doktor) melakukan riset tentang ilmu apa yang telah dia pelajari dari tingkat satu sampe tiga…

5. irvan132 - Maret 30, 2008

@ iwan
sudah saatnya riset menjadi parameter tentang kualitas mahasiswa. kalau masalah fasilitas, emang masih kurang. tapi, mahasiswa indonesia bisa “fight” kok dengan kondisi itu. saya yakin itu.😀

@ damar
hehe, itu inspirasi utamanya.

@ realylife
wah, selamat udah bisa mulai riset.

@ reditya
mantap emang di sana. lagi2 masalah sistem, bukan kultur. emang enak kalo sudah terbentuk lingkungan riset di kampus. beruntung Rez bisa dapet ilmu dari sana.🙂

-IT-

6. Nanta - Maret 30, 2008

hoho ngeri kali abang ini. Jadi ingat semester 3 kita :p

7. yuni - Maret 31, 2008

ok ok bravo IT, selamat melakukan riset🙂

8. tadiyah - Maret 30, 2009

betul, budaya riset harus dipupuk dan dipelihara karena mahasiswa adalah agen of change. jika mahasiswa kerjanya hanya mencopy-paste saja kapan lahirnya mahasiswa yang berkualitas…
riset dapat membina jiwa mandiri, pantang menyerah dan selalu berkeinginan mencoba hal yang baru..makanya masing-masing fakultas ato paling rendahnyalah prodi harus telah menerapkan pengembangan budaya riset ini.

jangan hanya materi perkuliahan saja dan tugas-tugas yang menjadi aktivitas mahiswa. Dukungan dari dosen sangat berpengaruh lho..karena ada mahasiswa yang tidak tau bagaimana cara memulainya yang disebabkan informasi yang g transparan ato sarana prasarana g mendukung.

smuanya harus sinkron…ok..

9. Si Jawir - September 6, 2009

saya sepakat dengan mas Irvan mengenai budaya riset dan mas iwansulistyo. jika mahasiswa tidak dibiasakan sejak dini, katakanlah semester awal, untuk melakukan riset, entah bekal apa yang nantinya akan dibawa ke semester berikutnya, pun ketika lulus dan bekerja / mengabdi kepada masyarakat.

untuk itu, semua elemen harus mendukung kebudayaan ini. mulai dari lingkup teman dekat, kelompok kelas, kelas, mahasiswa dgn dosen, antar kelas, bahkan jika sudah melekat ‘kebiasaan’ ini, tidak mustahil jika hal ini bisa ditiru oleh adik-adik kelas.

Nais share mas Irvan. keep posting!


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: