jump to navigation

Menyikapi Isu Juni 16, 2008

Posted by irvan132 in Kehidupan.
Tags: ,
5 comments

Seperti judul di atas, saya melewatkan banyak sekali isu yang sudah berlalu di masyarakat. Sudah sekitar seminggu ini tidak menulis tentang isu-isu sosial yang terjadi. Isu yang terakhir tertulis adalah tentang masalah kenaikan harga BBM. Saat ini, perhatian sudah tidak sepenuhnya tertuju kepada hal ini. Walaupun, masih ada saja pihak-pihak yang tetap concern untuk meminta agar kenaikan dibatalkan.

Beberapa isu yang terlewat adalah masalah blue energy, masalah penyerangan yang dilakukan oleh salah satu ormas, dan isu yang berkembang sekarang adalah masalah Euro 2008. Ternyata, ada satu lagi yang terlewat yaitu peluncuran IPhone 3G yang akan dijual dengan harga murah. Itulah isu-isu yang sedang berkembang saat ini, walaupun masih banyak isu lain yang juga penting tetapi tidak saya sebutkan.

Entah kenapa, isu tidak boleh dilewatkan begitu saja. Pengetahuan isu harus di-update. Ini dilakukan agar tidak ketinggalan informasi. Selain itu, isu merupakan salah satu parameter bahwa masyarakat selalu berubah. Masyarakat cenderung dinamis dan beradaptasi dengan keadaan sekitar. Ketika proses adaptasi tidak berjalan, timbul isu di sana-sini. Tindak lanjut isu adalah demonstrasi, demonstrasi, demonstrasi, tak jarang pula aksi-aksi anarki.

Inilah kesalahan kita, tindak lanjut isu masih seputar demonstrasi. Seharusnya, bukan itu. Tindak lanjut isu adalah dialog. Dengan dialog, semua pihak dapat memaparkan pandangan mereka tentang suatu isu yang berkembang. Dialog tidak harus menghasilkan kesepakatan, tetapi fungsi dialog sebenarnya adalah dapat memberikan perspektif bukan hanya dari satu sudut pandang saja. Ini yang penting. Ketika dialog masih merupakan cara yang manusiawi untuk menyikapi isu, justru banyak dari kita yang mendahulukan tindakan “kacangan” lainnya.

Dialog memang bukan cara ampuh, tetapi dialog merupakan cara yang paling masuk akal sebelum bertindak lebih jauh menyikapi isu. Isu tidak hanya selesai ketika berdialog antara 1-2 jam saja. Harus ada konsistensi dalam meluangkan waktu untuk dialog. Semacam disiplin dialog. Yah, mirip seperti aturan di dalam buku “Rock Dicipline” itu, karya John Petrucci. Akan tetapi, di sini adalah dialog, bukan rock. 😛

Itu saja. Saya menyarankan agar dialog menjadi jalan pertama yang diambil ketika menyikapi isu. Siapa yang tidak mau berdialog, dialah orang yang paling tidak bisa menyikapi isu. Dengan kata lain, orang itu belum berbudaya.

Salam,

-IT-

Iklan