jump to navigation

Masalah Budaya Juni 21, 2008

Posted by irvan132 in Keluh Kesah.
Tags: ,
trackback

Kasus pemukulan di suatu institusi negara yang menyebabkan kematian, terjadi lagi. Miris rasanya ketika mendengarnya. Ketika sebagian anak negeri berlomba-lomba agar dapat mengecap pendidikan, justru sisi kelam pendidikan yang dihadirkan. Pendidikan yang “keras” seolah sudah menjadi kebiasaan di kalangan kampus. Dengan mengatasnamakan “Pengenalan Lingkungan Kampus”, para senior tidak segan-segan memberi “pelajaran” kepada para juniornya.

Sudah sering kita mendengar kasus seperti ini. Walaupun kala itu Presiden sudah turun tangan, tetapi tetap saja kasus-kasus seperti ini terjadi lagi dan lagi. Ironis memang. Dan ketika dibahas, ternyata ini seperti mata rantai yang akan terus menyambung. Ketika dikaji lebih dalam, ini merupakan sebuah budaya.

Benar, kekerasan masih menjadi budaya di lingkungan pendidikan. Kata budaya memiliki makna yang sangat dalam, sedalam pengertian budaya itu sendiri. Tidak hanya kekerasan, budaya seperti korupsi, malas, dll sudah mengakar pada sebagian besar warga kita. Dan yang paling parah adalah ketika kita sendiri kesulitan di dalam memecahkan masalah budaya ini.

Sebagai contoh, bila ada konflik sosial yang menyebabkan korban jiwa, para ahli dengan lantang memberikan pernyataan bahwa ini masalah budaya dan membutuhkan waktu untuk dibenahi. Jika demikian, masalah budaya masih menjadi titik sentral permasalahan bangsa kita. Budaya belum mampu kita kontrol.

Ketika menghapus budaya sulit, sebaliknya, menumbuhkan budaya juga tidak mudah. Banyak sekali faktor yang harus diperhatikan untuk membudayakan sesuatu. Setiap orang harus memiliki komitmen dan disiplin yang baik agar budaya bisa tumbuh. Tanpa itu, budaya baru tidak akan terjadi.

Kembali ke masalah budaya, bagaimana jalan keluar untuk mengatasi masalah budaya ini? Setidaknya memutus mata rantai agar tidak terjadi lagi pada generasi berikutnya? Cukup sulit, karena masih di dalam sebuah sistem. Sistem ini yang harus dibenahi dan diperbaiki. Dengan sistem yang baik, budaya baik juga akan mudah hadir. Jika masih tidak bisa, apakah dengan menghilangkan 1-2 generasi mampu memperbaiki masalah budaya? Seekstrim itukah? Saya juga tidak tahu.

Salam,

-IT-

Komentar»

1. Aki Herry - Juni 21, 2008

Budaya kekerasan..
Kalau ya, berarti budaya yang menyedihkan sekali..

pernikahan adat - Januari 21, 2010

Begitu indah dan kaya Indonesia ini, mari bersama kita lestarikan budaya kita,, salam kenal dari Pernikahan Adat Di Indonesia

2. zoel chaniago - Juni 21, 2008

ya ya ya budaya kekerasan

3. deniar - Juni 22, 2008

jangan anarkis….

4. ridwan - Juni 23, 2008

udh jd “pakar” budaya abang satu ini😛

5. irvan132 - Juni 23, 2008

@ aki herry
sangat menyedihkan.

@ zoel
jangan dijadikan budaya.

@ deniar
stop anarki. gerakan anti anarki.

@ ridwan
sekedar melihat dari sudut pandang yang laen aja bos.🙂

-IT-

6. ulan - Juni 30, 2008

itu budaya kekerasan atau budaya yang mengeras mas??

7. Irvan - Juli 2, 2008

@ ulan
hehe, ga tau juga mbak. masih belum ngerti tentang budaya yang mengeras seperti apa.😛

-IT-

8. domi hulu - Oktober 12, 2008

saya rasa bukan dengan menghilangkan 1-2 generasi tersebut, walau bagaimanapun juga masalah budaya ada untuk lebih membenahi kebudayaan itu sendiri menjadi lebih baik bukan sebaliknya…

9. domi hulu - Oktober 12, 2008

🙂

10. mr.x - September 21, 2009

cupulatos

11. aisyah - April 9, 2010

benar…membenahi maslah2 tadi memang sulit karena berada dalam konteks SISTEM..ingat sekali lagi sistem….Maka sistem itulah yang harus diganti dengan sistem yang bukan buatan manusia…karena sang pencipta dengan keMahaSempurnaan-Nya menciptakan kita d dunia, sekaligus menciptakan bagaimana cara kita menjalani hidup agar tidak terjadi suatu masalah dan bencana. So, mengapa kita harus merepotkan diri dengan membuat-buat sistem sendiri…(mempersulit diri menurutq*)


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: