jump to navigation

Kuliah Budi Pekerti Juli 4, 2008

Posted by irvan132 in Keluh Kesah.
Tags: ,
trackback

Banyak sekali pelajaran yang dapat kita petik dari isu-isu yang sedang atau sudah terjadi. Kalau kita sedikit cerdas, justru dengan semakin banyak isu, makin banyak pula “sesuatu” yang dapat kita manfaatkan. Kali ini, saya ingin membahas isu-isu tentang kerusuhan pasca pemilihan kepala daerah (Pilkada).

Kerusuhan pasca pemilihan kepala daerah sepertinya sudah lazim terjadi ketika salah satu pesta demokrasi selesai digulirkan. Tidak tahu kenapa, kerusuhan tampaknya pasti akan terjadi. Baik itu karena kecurangan penghitungan suara, kampanye hitam (black campaign), dll. Seolah-olah, itu menjadi sebuah trigger untuk melakukan kerusuhan. Memang menyakitkan, apabila kalah karena dicurangi.

Kalau dilihat lebih dalam, sistem itu tidak ada yang benar-benar 100% mendekati ideal. Akan tetapi, cobalah kembali untuk melihat diri sendiri. Jangan selalu menyalahkan sistem. Tidak ada gunanya jika suatu sistem sudah mendekati ideal, tetapi orang-orang di dalam sistem tersebut jauh dari ideal. Kalau sudah seperti ini, yang terjadi hanya kesenjangan yang berlebihan.

Jika dikaitkan dengan masalah kerusuhan pasca pemilihan kepala daerah, ternyata tidak semuanya karena kesalahan sistem. Ada satu faktor lagi yang ikut berperan, yaitu manusia itu sendiri. Ketika sistem sudah dijalankan dengan maksimal, ternyata kerusuhan masih ada saja. Ini yang aneh. Sepertinya, ada suatu skenario bahwa kerusuhan harus ada.🙂

Menurut saya, jalan keluar masalah ini sangat sederhana. Ketika mengetahui hasil dan kalah, seharusnya sikap mau menerima kekalahan yang harus ditonjolkan. Nah, ini yang masih sulit di masyarakat kita. Kata-kata seperti kalah dan gagal masih menjadi sesuatu yang sangat memalukan. Kasarnya, seperti aib. Seharusnya tidak seperti itu. Kalah dan gagal bukan berarti selesai. Itu hanya sebuah tanda bahwa belum saatnya melakukan sesuatu.

Sikap mau menerima kekalahan itu bisa mengurangi kerusuhan. Nahasnya, sikap seperti itu sudah jarang dimiliki oleh masyarakat. Untuk membudayakan sikap tersebut, baik sekali jika ada pelajaran tentang budi pekerti, bahkan kuliah budi pekerti. Berilah porsi besar di pelajaran atau kuliah tersebut untuk membentuk mental yang baik, jangan sekenanya saja. Menurut saya, masyarakat kita tidak hanya dipersiapkan untuk menang saja, tetapi juga untuk kalah. Dengan begitu, saya yakin kerusuhan akan berkurang nantinya.

Salam,

-IT-

Komentar»

1. takochan - Juli 4, 2008

kuliah budi pekerti ya? Hmm.. kalo liat dari yg sudah-sudah (dari masa sd-kuliah), ntah kenapa saya agak skeptis. Mungkin maksudnya bukan lewat jalur formal itu ya? Yang diajarkan di depan kelas dan sifatnya semu? Itu sih sama aja sekenanya seperti yg disebut.

Hmm.. mungkin sih kuliah lewat contoh prilaku kali ya, misal nih, gak terpilih jadi Kajur tetap bersikap profesional dan tidak menjelek2an saingan di depan kelas, walaupun terselubung:mrgreen:
*uupsss😛

2. ridwan - Juli 5, 2008

kalo diinget2, taun 70-80an ga pernah denger berita orang indonesia rusuh2an abis nonton olahraga (ya bola, badminton,dll). Baru taun 90an kan… Nah, orang taun 90an tuh hasil didikan taun 80-90an. Ada yang salah dari pendidikan taun 80an sampe sekarang.. Di bangku sekolah kita diajarin olahraga tapi ga diajarin sportivitas tuh apa. Ngerasa ga?😀

3. rendy - Juli 5, 2008

kan sekarang udah lulus…
waktunya ngajar kuliah budi pekerti… :beer:

4. irvan132 - Juli 5, 2008

@ takochan
hehe, setuju saya. konsep ama prilaku harus seimbang, biar keduanya berjalan. wah, kalo di kampus masih ada kayak gitu, ati2 ya mbak. hihihi

@ ridwan
kayaknya pelajaran budi pekerti emang terhenti di angkatan 80 ini. CMIIW.

@ rendy
hehe, terus ditambah manajemen emosi oleh bung rendy ini.😀

-IT-

5. Petra Barus - Juli 6, 2008

gw gak ada di kurikulum mata kuliah Budi Pekerti

6. baguspewe - Juli 12, 2008

Rasanya ada deh dulu pelajaran PMP/PPKn/KWn. Di sana diajarkan budi pekerti juga kan?😛

7. haris - Agustus 23, 2008

ya seperti itu lah demokrasi… luapan kebebasan yang selama ini terkungkung… memang cenderung berlebihan… akan tetapi itulah long road to democracy…


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: