jump to navigation

Seminar How to Become CCIE Agustus 30, 2008

Posted by irvan132 in Kampus.
Tags: , ,
7 comments

Hari ini, saya mengikuti seminar yang diadakan di Comlabs ITB dengan tema β€œHow to Compete in Global Networking Market by Becoming a CCIE”. Yang menjadi pembicara adalah Himawan Nugroho. Di dalam seminar, dia banyak bercerita tentang kisah hidupnya untuk mencapai 3 kali CCIE di dalam track yang berbeda. Tidak ada hal teknis sama sekali yang dibahas di dalam seminar. Semuanya tentang motivasi saja. Tidak hanya Mas Himawan yang membagikan kisahnya kepada peserta, ada peraih CCIE lain yang membagikan kisah dengan pengalaman yang berbeda-beda.

Untuk saya, ada beberapa pelajaran yang dapat saya ambil dari seminar tadi:

  1. Butuh pengorbanan yang lebih untuk mencapai sesuatu.
  2. Sesuatu yang besar selalu dimulai dari hal-hal yang kecil dan sederhana.
  3. Tidak ikut arus.
  4. Jangan merasa puas jika sudah berada di “Comfort Zone” (Ingat buku Who Move My Cheese).
  5. Kesempatan selalu datang pada saat kita tidak siap.

Masih banyak sekali sebenarnya pelajaran yang dapat diambil selain di atas. Sebagai contoh yaitu apa yang harus dipilih antara sertifikasi dan master degree, mengapa memilih sertifikasi Cisco dibandingkan dengan vendor-vendor lain, dll. Seminar yang sangat menarik dan membuka sebuah pola pikir yang baru.

Perusahaan seperti Multipolar, Packet System, dan Astra Graphia “disebut” di dalam seminar ketika peraih CCIE membagikan pengalamannya. πŸ˜€ Saya tidak mendengar perusahaan lain lagi yang memiliki seorang CCIE. Kalau menurut saya, ketiga perusahaan tersebut cocok untuk anda yang ingin berkarier di bidang networking.

Salam,

-IT-

Iklan

Mati Kow Agustus 26, 2008

Posted by irvan132 in Kampus.
Tags: , ,
8 comments

Malam Minggu kemarin, saya mengikuti acara Mati Kow yaitu Maharani dan Bandito Kongkow. Ini merupakan salah satu acara rangkaian kaderisasi terhadap calon anggota himpunan.

Buat saya, acara ini sebagai ajang nostalgia saja. Bagaimana tidak, kira-kira 4 tahun yang lalu saya juga seorang Juniro. Sekarang, tidak terasa sudah menjadi Bandito. Perubahan “status” yang sangat cepat. Suasana acara kurang lebih sama, yang berbeda hanyalah tidak ada istilah Penyeragaman Rambut untuk para juniro. πŸ˜›

Kata-kata seperti Frekuensi Cut-off, Timer, Casio, tidak pernah bisa dilupakan. πŸ˜€ Berikut ini adalah screenshot lainnnya:

Selamat datang di himpunan!

Salam,

-IT-

Pin dari STEI Agustus 1, 2008

Posted by irvan132 in Kampus.
Tags: , ,
6 comments

Hari ini, saya mendatangi Tata Usaha (TU) Prodi untuk mengambil hasil legalisasi ijazah yang sudah saya pesan seminggu yang lalu. Tidak disangka, ternyata di samping hasil legalisasi ijazah, saya diberikan souvenir berupa pin. Pin ini berlambang Gajah Duduk yang dikelilingi tulisan School of Electrical Engineering and Informatics ITB. Lumayan, sebagai kenang-kenangan sebelum meninggalkan kampus tercinta ini. πŸ˜›

Sebagai informasi, biaya legalisasi ijazah di prodi saya adalah 10 ribu rupiah. Jika ditambah dengan legalisasi transkrip nilai, biayanya menjadi 20 ribu rupiah. Enjoy! πŸ˜€

Salam,

-IT-

Indahnya Perang Air Juli 21, 2008

Posted by irvan132 in Kampus.
Tags: , ,
10 comments

Tidak perlu berpanjang lebar lagi, perang air harus selalu ada di dalam setiap acara arak-arakan wisudawan. Tanpa perang air adalah Basbangβ„’. πŸ˜› Di dalam perang air kemarin, tentu para wisudawan menjadi korban, termasuk saya. Kantung air yang diperkirakan berjumlah 8000 buah habis dalam waktu 45 menit. Sangat melelahkan dan semuanya orang basah.

Saya ucapkan selamat kepada para wisudawan, semoga ilmunya bermanfaat bagi orang lain. Dan kepada seluruh panitia wisuda, saya mengucapkan terima kasih. Acaranya keren dan sangat berkesan. πŸ˜€

Berikut ini screenshot perang air lainnya:

Salam,

-IT-

Perlengkapan Standar Ke Job Fair Juni 19, 2008

Posted by irvan132 in Kampus.
Tags: ,
7 comments

Salah satu cara perusahaan dalam merekrut karyawan baru adalah dengan menggelar Job Fair di kampus-kampus. Tidak hanya Job Fair, ada juga istilah lain yaitu Career Day atau Career Expo. Akan tetapi, walaupun namanya berbeda, bentuk kegiatannya kurang lebih sama. Di samping melakukan perekrutan, tujuan Job Fair adalah memperkenalkan perusahaan kepada masyarakat (kampus) agar mengenal lebih dekat perusahaan.

Di kampus saya, banyak sekali acara-acara serupa dihadirkan. Sebanyak itu pula, saya hadir untuk mengikuti perkembangan tentang lapangan kerja di sana. Selama ini, niat saya mengunjungi Job Fair hanya untuk melihat-lihat saja. Tidak ada niat untuk meng-apply di lowongan yang tersedia. Selain mengamati orang-orang yang datang, saya juga melihat selebaran-selebaran yang ditempel di stand masing-masing perusahaan. Dari sini, saya menyimpulkan bahwa ada perlengkapan standar ketika mengunjungi Job Fair. Perlengkapan itu adalah sebagai berikut:

  1. Fotokopi ijazah legalisasi dan transkrip nilai selama kuliah.
  2. Fotokopi tanda pengenal diri (KTP, SIM, atau paspor).
  3. Surat lamaran kepada perusahaan tujuan (cover letter).
  4. Curriculum vitae (CV).
  5. Pas foto diri ukuran 4×6 dan 3×4.
  6. Surat pernyataan (bila perlu)
  7. Amplop berukuran besar.

Itulah perlengkapan standarnya. Ketika datang ke sana, jangan lupa memakai sepatu dan kemeja. Ini untuk menjaga-jaga apabila ada wawancara (interview) secara langsung on the spot. Cobalah agar dipersiapkan bila ada acara-acara Job Fair atau Career Day di kampus anda. Semoga sukses! πŸ˜€

Salam,

-IT-

Foto Angkatan Teknik Komputer ITB 2004 Juni 3, 2008

Posted by irvan132 in Kampus.
Tags: , ,
12 comments

Diilhami dari sebuah anekdot yang cukup terkenal, yaitu “Tanpa Foto adalah Basbangβ„’”, maka anak-anak Teknik Komputer ITB 2004 melakukan foto bersama. Bukan untuk gaya atau pamer, nilai sejarah foto adalah yang utama. Di samping itu, kebersamaan menjalani suka duka di kampus akan segera berakhir. Karena pertimbangan di atas, maka saya dan teman-teman seangkatan melakukan Foto Angkatan di Hari Jumat kemarin.

Tempat foto yang dipilih adalah Jonas Photo di Jalan Banda 38 Bandung. Jonas Photo merupakan standar studio yang dipilih oleh anak-anak Bandung jika ingin foto bersama. Saya tidak tahu apakah Jonas merupakan pilihan satu-satunya di Bandung ini. Salah satu hasil foto kemarin dengan latar belakang angka biner (0 dan 1) adalah sebagai berikut:

Keterangan gambar adalah:

Berdiri atas (dari kiri ke kanan): Tri Jaya Putra, Wildan Aliviyarda, Adityo Pratomo, Andry Ongkinata, Firman Ardiansyah, Aska Narendra, Hermond B.R. Tamba

Berdiri bawah: Ario Timur, Irvan Dalfirtano Tambunan, Bagus Prasetyo Wibowo, Dian Dwi Nugraha, Aditya Arie Nugraha, Qomarullah, Fajar Fathurrahman

Duduk atas: Buddy Hermawan Saputra, Andi, Yusran Aldila, Ridwan Fahri, Felix Arnold, I Made Sukrawan, Damar Sandi Wicaksana

Duduk bawah: Ilham Inawel, Isa Yahya, Arsandi Akhmad, Oky Firmansyah, Jonni Susilo, Randy Erfa Saputra

Total yang hadir sebanyak 27 orang. Sebenarnya, ada anak-anak komputer yang tidak bisa hadir saat Foto Angkatan ini. Mereka adalah Bryan Yonathan, Risky Nugraha, Iin Farentin Tanzil, Randy Hari Widialaksono, dan Victor Chandra. Sayang sekali mereka tidak bisa ikut momen yang sangat berharga ini. πŸ™‚

Berikut ini screenshot lain hasil foto bersama kemarin.

Salam,

-IT-

*Computer Engineering ITB 2004

Membudayakan Riset di Kampus Maret 29, 2008

Posted by irvan132 in Kampus.
Tags: ,
9 comments

Ternyata contek-mencontek masih menjadi persoalan yang sampai saat ini belum ada jalan keluarnya. Jangankan mencari solusi, mencari kesamaan pendapat tentang apakah mencontek itu merupakan perbuatan yang baik/buruk saja masih sulit. Tentang baik atau buruk, semua orang berpendapat. Seperti biasa, ada yang pro dan kontra. Akan tetapi, yang akan saya bahas di sini adalah bagaimana cara melupakan mencontek dengan membudayakan riset di kalangan mahasiswa.

Sudah kita ketahui bersama bahwa mencontek sudah menjadi budaya di kalangan mahasiswa sekarang. Terlepas baik/buruk, semua orang rata-rata pernah mencontek. Walaupun, ada juga mahasiswa yang tidak pernah mencontek selama kuliah. Salut untuk mereka yang tidak mencontek. πŸ˜›

Sepertinya budaya mencontek ini muncul baru-baru ini saja. Maksud saya adalah bahwa dahulu masih ada rasa malu untuk mencontek. Akan tetapi, sekarang keadaan terbalik. Malah malu ketika tidak mencontek. Ironis. Kalau menurut saya, banyak faktor yang menyebabkan hal ini. Salah satunya adalah sistem. Saya menyebutkan di atas bahwa mencontek sudah menjadi budaya. Dan, budaya itu diciptakan oleh sistem yang ada. Tak berlebihan jika saya menyebutnya sebagai kesalahan sistem. Sebaik apapun seseorang itu, jika dia masuk ke sebuah sistem yang “rusak”, kemungkinan besar orang tadi akan “rusak” pula.

Kemungkinan-kemungkinan seperti itu yang harus diminimalisasi. Seperti halnya mencontek, dia bisa hadir karena ada kemungkinan ke arah itu. Secara logika, kalau kemungkinan-kemungkinan seperti itu bisa dikurangi, budaya mencontek bisa terkikis dan sistem “rusak” bisa diperbaiki. Salah satu upaya yang ingin saya usulkan untuk jurusan saya adalah menumbuhkan dan membudayakan riset. Riset di sini jelas. Ada masalah, hipotesis, pengujian, analisis, kesimpulan awal, analisis, kesimpulan akhir. Tidak lupa, hasil riset bisa dijadikan paper yang berguna.

Keuntungan riset banyak sekali. Saya tidak mampu menyebutnya satu persatu. πŸ˜› Yang menurut saya penting adalah pembelajaran ilmu, studi kasus, dan menulis secara rutin. Jika melakukan riset, harus ada dasar-dasar ilmu yang menunjang. Ini meningkatkan budaya belajar. Proses pembelajaran akan terjadi. Riset tanpa ilmu adalah BOHONG. Berikutnya, mengenai studi kasus. Studi kasus membentuk mahasiswa lebih peduli terhadap permasalahan yang terjadi di lingkungannya. Dengan riset, mahasiswa akan memecahkan masalah-masalah yang sedang terjadi. Jadi, ilmu yang didapat bukan sekadar teori. Ada aplikasi yang berguna terhadap masyarakat. Yang terakhir adalah belajar menulis. Riset yang baik adalah riset yang terdokumentasi dengan baik. Dengan adanya dokumentasi, mahasiswa dilatih untuk menulis. Di samping itu, dokumentasi merupakan alat utama untuk mengetahui sejauh mana riset yang dilakukan dan peningkatan apa saja yang bisa dilakukan dari riset sebelumnya.

Langkah konkritnya adalah ketika dosen menargetkan setiap mahasiswanya mengeluarkan satu paper tentang riset terhadap salah satu mata kuliah setiap semester. Tidak semua mata kuliah yang diambil mahasiswa harus mengeluarkan paper. Akan tetapi, jurusan membuat kebijakan khusus ada mata kuliah tertentu yang mewajibkan mahasiswa mengeluarkan paper. Tentu saja mata kuliah yang aplikasinya sedang ramai digunakan saat itu. Dengan demikian, setidaknya di dalam 1 semester, ada 1 paper yang dikeluarkan mahasiswa. Tidak hanya mahasiswa yang akan melupakan budaya mencontek, tetapi sistem (mahasiswa, dosen, dan pembuat kebijakan) juga akan selalu up to date mengenai perkembangan ilmu baru. Dinamis.

Sebenarnya, masih banyak cara lain untuk “melupakan” budaya contek-mencontek. Pendekatannya banyak sekali. Kebetulan saja saya mengambil tema riset karena menurut saya riset itu menyenangkan. It’s fun, Guys! Saya baru menyadari itu sekarang. Ini disebabkan karena para dosen saya kebanyakan memberikan Ujian Tengah Semester (UTS) tentang riset yang sesuai dengan materi kuliah. Mungkin kedepannya, UTS tertulis sudah tidak relevan lagi dengan kebutuhan masa depan. Kemampuan seorang mahasiswa diukur berdasarkan hasil riset mereka. πŸ˜€

Selamat Datang Riset!

Salam,

-IT-

Dosen Juga Seorang Deadliner! Februari 25, 2008

Posted by irvan132 in Kampus.
Tags:
10 comments

Ternyata tidak hanya mahasiswa yang sering disebut seorang deadliner, seorang dosen pun demikian. Saya menyebut demikian, karena nilai-nilai dari mata kuliah baru keluar sekarang. Padahal, batas waktu penyerahan nilai sudah berakhir minggu kemarin. πŸ˜€

Saya tidak tahu mengapa nilai-nilai beberapa mata kuliah baru keluar sekarang. Saya pikir bahwa dosen juga memiliki urusan lain yang tidak kalah penting dibandingkan dengan urusan nilai ini. Alasan riset sangat masuk akal. Yang jelas, sifat deadliner ini ada di setiap manusia.

Akan tetapi, tidak apa-apa. Sekarang, semuanya menjadi jelas. Tidak ada rasa penasaran lagi. Semua nilai sudah keluar. Mengenai hasilnya, ada yang sesuai harapan dan ada pula yang melebihi harapan. πŸ˜›

Kembali lagi, dosen juga seorang deadliner. Siapa yang setuju? πŸ˜€

Salam,

-IT-

Lab Sebagai Penunjang Tugas Akhir Februari 18, 2008

Posted by irvan132 in Kampus.
Tags: ,
14 comments

Laboratorium (Lab) merupakan salah satu elemen penting untuk menunjang keberhasilan ketika sedang mengerjakan tugas akhir (TA)/skripsi. Hal ini karena biasanya kondisi lab sangat ideal untuk mengerjakan suatu proyek. Di dalam lab, sudah tersedia banyak sekali buku-buku teks yang dapat dijadikan sebagai referensi topik yang sedang dikerjakan. Di samping itu, letak lab sangat dekat dengan ruang dosen dan ruang kuliah sehingga mudah untuk berkonsultasi dengan dosen pembimbing seandainya mengalami kebuntuan (stuck) ketika mengerjakan skripsi, serta tidak perlu berjalan ke sana kemari ketika ingin kuliah.

Akan tetapi, yang namanya “lab” di Indonesia, tidak seperti yang saya bayangkan. Kondisinya masih jauh dari keadaan ideal. “Lab” memiliki pengertian adalah ruangan yang berisi meja dan komputer, ditambah dengan koneksi internet. Itulah pengertian yang selama ini saya tangkap. Saya belum pernah masuk ke lab di kampus lain. Yang jelas, pengertian lab masih seadanya. Walaupun, ada juga lab-lab dengan fasilitas “wah” untuk riset. Akan tetapi, saya yakin bahwa keadaan lab yang “biasa” itu tidak menjadi hambatan untuk maju di dalam berkarya (scam banget). πŸ˜›

Saat mengerjakan tugas akhir ini, saya memilih untuk konsentrasi di Laboratorium Digital Signal Processing (DSP) ITB. Ketua lab ini adalah Pak Armein Z.R. Langi. Beliau merupakan dosen pembimbing saya. Berikut ini beberapa snapshots lab DSP ITB.

Lab DSP.

lab-dsp.jpg

Koleksi Buku.

koleksi-lab-dsp.jpg

Komputer Lab DSP.

dsp-itb.jpg

Mahasiswa di Lab DSP. πŸ˜€

irvan-dsp.jpg

Kesimpulannya adalah lab sebagai penunjang saat mengerjakan skripsi. Kalau anda sudah berencana mengerjakan tugas akhir, anda harus menentukan lab apa yang dapat menunjang keberhasilan tugas akhir tersebut. Semoga sukses.

Salam,

-IT-

Cara Memilih Kampus Januari 24, 2008

Posted by irvan132 in Kampus.
Tags:
12 comments

Dulu, saya sempat bingung untuk meneruskan pendidikan saya ke mana setelah lulus dari SMA nanti. Waktu itu, saya masih belum memahami tentang apa itu universitas, institut, sekolah tinggi, dll. Saya tidak mengetahui perbedaan istilah itu. Ketika memilih kampus ini sebagai tujuan, jujur saja, saya hanya ikut “arus” saat itu. Saya hanya terpengaruh oleh teman-teman yang lain. 😦

Baiklah, berikut ini adalah cara untuk memilih kampus berdasarkan pengalaman saya sebagai mahasiswa (tingkat akhir). Tentu saja, cara ini sangat bersifat subyektif.

  1. Akreditasi. Status akreditasi ini berfungsi untuk menunjukan mutu dan kemampuan suatu kampus dalam menyelenggarakan suatu program studi. Ingat, program studi dan bukan kampus secara keseluruhan. Jadi, jangan salah kaprah dengan status akreditasi. Yang memiliki akreditasi adalah program studi atau jurusan yang ada di dalam kampus tersebut. Di kampus saya, program studi Teknik Elektro sudah memakai sistem akreditasi keluaran ABET.
  2. Riset. Selain sebagai tempat belajar mengajar, kampus merupakan tempat melakukan riset. Ingat, Tri Dharma Perguruan Tinggi. Kampus yang baik tercermin dari hasil riset mereka lakukan. Hasil riset dapat berupa jurnal, paper, atau makalah yang dipublikasikan secara luas. Riset juga menentukan kualitas dosen yang mengajar di kampus tersebut.
  3. Reputasi. Masalah reputasi tergantung dari pandangan masyarakat luas. Apakah itu dari kualitas lulusannya, masalah intern/ekstern kampus, maupun sorotan media terhadap kampus tersebut. Untuk masalah kualitas lulusan, dapat dinilai dari tanggapan perusahaan/orang/lembaga yang memakai jasa lulusan tersebut. Untuk masalah kampus intern/ekstern, lebih kepada fasilitas kampus dan hubungan kampus dengan institusi terkait yang lain. Untuk masalah sorotan media, kasus seperti pornografi dan kekerasan di kampus dapat dijadikan sebagai pertimbangan dalam memilih kampus tersebut.
  4. Kualitas Diri. Kalau menurut saya, faktor ini cukup penting. Di sini, saya mengatakan bahwa apakah kampus tersebut membuat anda menjadi lebih dewasa atau tidak nantinya. Setidaknya, ketika masuk ke dalam kampus, anda memiliki suatu idealisme tersendiri yang bisa anda wujudkan. Contoh kecil adalah ketika anda sudah “mulai” memikirkan kondisi dunia di sekitar anda. Baik itu tentang masalah sosial, politik, ekonomi, dll yang terjadi di sekitar anda. Titik baliknya adalah ketika anda sudah bisa berbicara dan mengungkapkan pendapat anda di depan umum.

Memang, memilih kampus tidak bisa dipikirkan sekali atau dua kali saja. Butuh pemikiran yang matang untuk memilih kampus yang sesuai dengan kriteria yang diingikan. Sebenarnya, masih banyak sekali faktor yang dapat dijadikan parameter dalam memilih kampus. Itu dapat anda tambahkan sendiri ketika memilih. Saya hanya menegaskan bahwa anda jangan salah memilih kampus. Karena itu dapat mempengaruhi masa depan anda. Semoga sukses!

Salam,

-IT-