jump to navigation

Kualitas Produktivitas Agustus 14, 2009

Posted by irvan132 in Kehidupan, Keluh Kesah.
17 comments

Saya mendapat teguran karena melebihi batas toleransi waktu masuk kantor. Saya mengakui kalau terlambat masuk ke kantor itu merupakan larangan. Kantor manapun di dunia ini, jarang memberikan toleransi terhadap keterlambatan. Akan tetapi, saya memiliki alasan yang cukup logis untuk sekadar mencari “pembenaran” terhadap keterlambatan saya ini. 😀

habitat_wall_clock

Pembenaran pertama adalah produktivitas. Apa yang produktivitas hasilkan sampai-sampai mampu membenarkan keterlambatan? Sederhana sekali, produktivitas itu berhubungan erat menghasilkan sesuatu. Bukan hanya sesuatu, tetapi Sesuatu. Walaupun terlambat, saya merasa produktivitas saya di atas rata-rata. Ini artinya, saya mampu menghasilkan dengan waktu yang sudah berkurang jika diukur secara kuantitatif. Apakah ini buruk? Sepertinya tidak.

Faktor lain untuk menguatkan pembenaran ini adalah waktu produktivitas menjadi berbeda. Sebagai contoh, dalam waktu 1 jam, saya mampu menghasilkan “sesuatu”. Mungkin ini berbeda dengan orang lain yang menghasilkan sesuatu dalam waktu 1 jam. Nah, ini yang dinamakan kualitas. Tidak hanya kualitas produksi, tetapi kualitas menyelesaikan masalah.

Jadi, jika ada orang yang menyela anda ketika anda terlambat, katakan saja kepadanya tentang kualitas produktivitas. Lalu, tambahkan dengan sebuah kalimat berikut: “Satu jam saya lebih produktif dari anda, satu jam saya lebih berkualitas dari anda”. Saya jamin orang tadi akan langsung merenung dan mencerna kata-kata anda.

Gambar: INI

Salam,

-IT-

Baru Sultan Yang Berbicara IT Januari 22, 2009

Posted by irvan132 in Keluh Kesah.
Tags: ,
13 comments

“Teknologi Informasi dan Komunikasi di Indonesia sudah seharusnya bersifat IP-based“. Kira-kira seperti itulah inti sari pembicaraan Sri Sultan yang saya tangkap di salah satu scene ketika menonton acara Save Our Nation di MetroTV semalam. Saya yakin bahwa IP yang dimaksud adalah Internet Protocol walaupun beliau tidak menyebutkan kepanjangan IP. 🙂 Mendengar itu, saya langsung konsentrasi mengikuti alur pembicaraan Sultan di acara tersebut.

Menurut saya, ini merupakan suatu terobosan baru menjelang Pemilu 2009. Bagaimana tidak, di saat calon presiden lain mengambil isu yang itu-itu saja dalam agenda mereka, Sultan memberikan perbedaan. Jujur saja, saya sudah bosan jika isu yang diangkat masih seputar kemiskinan, korupsi, pengaruh asing, dll. Bosan karena menurut saya isu-isu tersebut sudah merupakan syarat fundamental yang harus dibenahi untuk memajukan bangsa ini. Saya pribadi merasa lelah, jika isu-isu kuno seperti itu terus menjadi agenda utama para calon presiden. Ibarat kata pepatah, “Lagu lama, tetapi Kaset Baru!”.

Boleh saja para calon mengagendakan salah satu isu kuno di atas, tetapi setidaknya ada isu lain yang baru (fresh from the oven) dan aktual untuk keadaan saat ini. Seperti contoh isu yang sudah diagendakan oleh Sultan yaitu teknologi. Ini bagus dan patut dihargai. Sekarang ini zaman teknologi. Teknologi sudah menjadi kebutuhan dasar manusia. Impian saya adalah alokasi dana APBN bisa mencapai 10% untuk bidang teknologi. Kalau ini bisa terjadi, kita harus bersyukur mengingat perkembangan teknologi dan komunikasi Indonesia termasuk tinggi di dunia.

Sultan adalah salah satu contoh calon presiden dengan mengangkat isu yang tidak itu-itu saja. Saya berterima kasih. Ada juga calon presiden yang ngomongin IT. Saya berharap ada calon lain yang juga visioner melihat ke depan. Kalau tidak, calon yang itu-itu saja harus segera mengagendakan isu yang tidak itu-itu saja. 😀

Salam,

-IT-

* bukan simpatisan Sultan dan belum menentukan pilihan untuk Pilpres 2009

Welcome, Perubahan Agustus 14, 2008

Posted by irvan132 in Keluh Kesah.
Tags: ,
6 comments

Semester kedua tahun 2008, sepertinya kata “Perubahan” sudah menjadi salah satu kata yang populer. Bagaimana tidak, di media-media massa, kata ini selalu diusung untuk suatu tujuan tertentu. Dan, topik yang paling dekat dengan kata “Perubahan” adalah Pemilu 2009.

Lihat saja, para calon pemimpin bangsa masa depan banyak yang mulai menyuarakan suatu perubahan. Timbul sebuah pertanyaan yaitu apakah perubahan yang dimaksud? Tentu saja, kita berharap bahwa perubahan yang akan datang merupakan perubahan menuju ke arah yang lebih baik. Akan tetapi, perubahan menuju ke arah yang lebih baik sendiri masih sangat umum. Belum jelas. Di samping itu, parameter perubahan sendiri masih dipertanyakan. Secara sederhana, perubahan akan terlihat dengan adanya perbandingan. Nah, ini yang masih sulit. Parameter perbandingan masih belum ada.

Sebenarnya, mengusung tema perubahan itu baik. Dan akan lebih baik lagi jika dengan parameter yang jelas. Tidak ada gunanya mengusung suatu perubahan, tetapi tidak mengetahui perubahan ke arah mana. Untuk itu, kita jangan terlalu cepat “jatuh hati” terhadap tokoh-tokoh yang mengusung tema perubahan jika poin-poin perubahan itu sendiri masih belum jelas. Yang jelas, untuk masa sekarang, perubahan yang ditawarkan masih sebuah visi. Belum ada suatu tindakan yang kongkrit yang dapat dilakukan untuk mewujudkan perubahan itu.

Intinya adalah jangan sampai salah kaprah bahwa perubahan selalu menuju ke arah yang lebih baik. Tentu tidak. Perubahan yang cenderung sama saja (stagnan) atau malah lebih buruk dari sebelumnya, tidak jarang terjadi juga. Toh, itu namanya juga sama, sama-sama perubahan. Satu hal lagi, perubahan itu tidak instan.

Selamat Datang (kembali), Perubahan!

Salam,

-IT-

Guru atau Engineer? Juli 14, 2008

Posted by irvan132 in Keluh Kesah.
Tags: ,
19 comments
  • Gaji pokok (base salary) sama
  • Tunjangan sama
  • Fasilitas yang diberikan sama

Ketika saya bertanya kepada teman-teman saya (jurusan teknik), ternyata 4 dari 5 orang lebih memilih engineer sebagai profesi pilihan. Saya tidak tahu apa sebabnya. Padahal, semuanya sama.

Usut punya usut, ternyata profesi sebagai guru masih dianggap sebelah mata oleh mereka. Kata “guru” seakan memiliki makna peyorasi. 😦 Pendapat mereka berbeda-beda, ada karena minat, masa depan profesi (karier), dll. Seharusnya, pilihan ini juga diberikan kepada teman-teman dari jurusan science, biar seimbang. Apakah hasilnya berubah?

Kalau hasilnya tetap sama (tidak memilih guru sebagai profesi), dengan sangat menyesal saya katakan bahwa masa depan guru masih di sekitar “itu-itu” saja. Akan tetapi, jika hasilnya berubah, saya optimis profesi sebagai guru bakal menjanjikan dan bisa menjadi pilihan “pertama”.

Semoga saja.

Catatan: Guru, bukan Dosen

Salam,

-IT-

Kuliah Budi Pekerti Juli 4, 2008

Posted by irvan132 in Keluh Kesah.
Tags: ,
7 comments

Banyak sekali pelajaran yang dapat kita petik dari isu-isu yang sedang atau sudah terjadi. Kalau kita sedikit cerdas, justru dengan semakin banyak isu, makin banyak pula “sesuatu” yang dapat kita manfaatkan. Kali ini, saya ingin membahas isu-isu tentang kerusuhan pasca pemilihan kepala daerah (Pilkada).

Kerusuhan pasca pemilihan kepala daerah sepertinya sudah lazim terjadi ketika salah satu pesta demokrasi selesai digulirkan. Tidak tahu kenapa, kerusuhan tampaknya pasti akan terjadi. Baik itu karena kecurangan penghitungan suara, kampanye hitam (black campaign), dll. Seolah-olah, itu menjadi sebuah trigger untuk melakukan kerusuhan. Memang menyakitkan, apabila kalah karena dicurangi.

Kalau dilihat lebih dalam, sistem itu tidak ada yang benar-benar 100% mendekati ideal. Akan tetapi, cobalah kembali untuk melihat diri sendiri. Jangan selalu menyalahkan sistem. Tidak ada gunanya jika suatu sistem sudah mendekati ideal, tetapi orang-orang di dalam sistem tersebut jauh dari ideal. Kalau sudah seperti ini, yang terjadi hanya kesenjangan yang berlebihan.

Jika dikaitkan dengan masalah kerusuhan pasca pemilihan kepala daerah, ternyata tidak semuanya karena kesalahan sistem. Ada satu faktor lagi yang ikut berperan, yaitu manusia itu sendiri. Ketika sistem sudah dijalankan dengan maksimal, ternyata kerusuhan masih ada saja. Ini yang aneh. Sepertinya, ada suatu skenario bahwa kerusuhan harus ada. 🙂

Menurut saya, jalan keluar masalah ini sangat sederhana. Ketika mengetahui hasil dan kalah, seharusnya sikap mau menerima kekalahan yang harus ditonjolkan. Nah, ini yang masih sulit di masyarakat kita. Kata-kata seperti kalah dan gagal masih menjadi sesuatu yang sangat memalukan. Kasarnya, seperti aib. Seharusnya tidak seperti itu. Kalah dan gagal bukan berarti selesai. Itu hanya sebuah tanda bahwa belum saatnya melakukan sesuatu.

Sikap mau menerima kekalahan itu bisa mengurangi kerusuhan. Nahasnya, sikap seperti itu sudah jarang dimiliki oleh masyarakat. Untuk membudayakan sikap tersebut, baik sekali jika ada pelajaran tentang budi pekerti, bahkan kuliah budi pekerti. Berilah porsi besar di pelajaran atau kuliah tersebut untuk membentuk mental yang baik, jangan sekenanya saja. Menurut saya, masyarakat kita tidak hanya dipersiapkan untuk menang saja, tetapi juga untuk kalah. Dengan begitu, saya yakin kerusuhan akan berkurang nantinya.

Salam,

-IT-

3 Tahun 10 Bulan Juni 25, 2008

Posted by irvan132 in Keluh Kesah.
Tags: , ,
21 comments

Alhamdulillah, hari ini (Rabu, 25 Juni 2008), secara tidak resmi saya menamatkan pendidikan saya di ITB. Saya lalui Sidang Tugas Akhir (STA) dengan cukup baik. Walaupun Buku TA saya banyak yang harus direvisi, hasil sidang saya adalah baik sekali. 😀

Terima kasih banyak kepada semuanya, untuk semua orang yang telah mendukung dan membimbing saya di dalam menyelesaikan TA saya. Semoga amal kebaikan kalian semua dibalas oleh Allah di kemudian hari. Amin.

Keterangan gambar : Isa Yahya, S.T.; saya; Damar; Fikri; dan Firman (fotografer).

Salam,

-IT-

Masalah Budaya Juni 21, 2008

Posted by irvan132 in Keluh Kesah.
Tags: ,
12 comments

Kasus pemukulan di suatu institusi negara yang menyebabkan kematian, terjadi lagi. Miris rasanya ketika mendengarnya. Ketika sebagian anak negeri berlomba-lomba agar dapat mengecap pendidikan, justru sisi kelam pendidikan yang dihadirkan. Pendidikan yang “keras” seolah sudah menjadi kebiasaan di kalangan kampus. Dengan mengatasnamakan “Pengenalan Lingkungan Kampus”, para senior tidak segan-segan memberi “pelajaran” kepada para juniornya.

Sudah sering kita mendengar kasus seperti ini. Walaupun kala itu Presiden sudah turun tangan, tetapi tetap saja kasus-kasus seperti ini terjadi lagi dan lagi. Ironis memang. Dan ketika dibahas, ternyata ini seperti mata rantai yang akan terus menyambung. Ketika dikaji lebih dalam, ini merupakan sebuah budaya.

Benar, kekerasan masih menjadi budaya di lingkungan pendidikan. Kata budaya memiliki makna yang sangat dalam, sedalam pengertian budaya itu sendiri. Tidak hanya kekerasan, budaya seperti korupsi, malas, dll sudah mengakar pada sebagian besar warga kita. Dan yang paling parah adalah ketika kita sendiri kesulitan di dalam memecahkan masalah budaya ini.

Sebagai contoh, bila ada konflik sosial yang menyebabkan korban jiwa, para ahli dengan lantang memberikan pernyataan bahwa ini masalah budaya dan membutuhkan waktu untuk dibenahi. Jika demikian, masalah budaya masih menjadi titik sentral permasalahan bangsa kita. Budaya belum mampu kita kontrol.

Ketika menghapus budaya sulit, sebaliknya, menumbuhkan budaya juga tidak mudah. Banyak sekali faktor yang harus diperhatikan untuk membudayakan sesuatu. Setiap orang harus memiliki komitmen dan disiplin yang baik agar budaya bisa tumbuh. Tanpa itu, budaya baru tidak akan terjadi.

Kembali ke masalah budaya, bagaimana jalan keluar untuk mengatasi masalah budaya ini? Setidaknya memutus mata rantai agar tidak terjadi lagi pada generasi berikutnya? Cukup sulit, karena masih di dalam sebuah sistem. Sistem ini yang harus dibenahi dan diperbaiki. Dengan sistem yang baik, budaya baik juga akan mudah hadir. Jika masih tidak bisa, apakah dengan menghilangkan 1-2 generasi mampu memperbaiki masalah budaya? Seekstrim itukah? Saya juga tidak tahu.

Salam,

-IT-

Gen-gen Hipokrit Mei 20, 2008

Posted by irvan132 in Keluh Kesah.
Tags: ,
19 comments

Di Hari Kebangkitan Nasional ini, sepertinya semua orang bersikap pesimis dengan makna kebangkitan itu sendiri. Orang-orang tampak sekali tidak puas dengan keadaan sekarang. Keadaan yang menurut mereka lebih sulit, lebih keras, dan lain sebagainya. Dan yang paling parah, 20 Mei diplesetkan menjadi Hari Keterpurukan Nasional. Apalagi di dalam peringatan 100 tahun Kebangkitan Nasional sekarang, ditandai dengan harga BBM yang akan naik. Ya sudah, makin pas kata “kebangkitan” untuk diplesetkan.

Akan tetapi, kalau saya (untuk anda saya tidak tahu), sudah bosan memperdebatkan tentang harga BBM. BBM lagi, BBM lagi. Apa tidak ada topik lain yang lebih seru dibandingkan BBM? Hehe, benar juga. Rasanya jenuh juga hanya untuk membahas satu hal yang itu-itu saja. Kalau dibahas terus-menerus, jelas tidak akan habis juntrungannya.

Baiklah, saya akan membahas topik lain. Masih sekitar masalah sosial, kemanusiaan, dan jelas tetap berhubungan dengan semangat Kebangkitan Nasional. Untuk Kebangkitan Nasional sendiri, saya selalu berusaha untuk menggelorakan semangatnya di dalam diri saya. Tidak harus dengan upacara, teriak sana-sini, apalagi melalui demonstrasi. Cukup dengan sikap optimis dan karya nyata. Anti nol besar. 😀 Melalui visi-visi “liar” dan ide-ide “segar” dengan pemikiran yang cerdas dan rasional. Mengapa melalui visi dan ide? Karena saya yakin, jika ada Perang Dunia ke-3 nanti, senjata yang paling ampuh bukan senjata nuklir maupun biologis, tetapi senjata yang paling ampuh adalah akal dan pikiran anda. Inilah yang disebut sebagai Perang Pikiran. Dan, saya lupa apakah Bahasa Arabnya Perang Pikiran ini.

Untuk itulah, saya tekankan bahwa pikiran kita itu sangat penting. Nantinya, pikiran/ide adalah segala-galanya. Tanpa ide, kita tidak bisa “berperang” secara kasarnya. Kebetulan, saya baru berkenalan dengan satu kata baru yaitu hipokrit. Hipokrit berasal dari bahasa Yunani ὑποκρίτης (hypokrites), yang artinya orang yang berpura-pura memiliki sikap yang baik, tetapi perbuatannya sangat bertolak belakang dengan sikapnya. Sebagai contoh, ketika dia menyuruh orang untuk tidak memakai narkoba, ternyata dia sendiri seorang pengguna narkoba (junkie). 😦

Nah, sekarang ini, di negara ini, makin banyak orang-orang yang seperti itu. Di dalam tubuh mereka terkandung gen-gen hipokrit. Berbicara A, tetapi bertingkah laku B. Orang seperti ini sangat berbahaya. Lebih berbahaya daripada orang-orang yang tidak berpura-berpura melakukan kejahatan. Dia dapat mempermainkan pikiran seseorang, bahkan membunuh pola pikir seseorang itu. Efeknya mencapai keadaan psikologis yang “sakit” berkepanjangan. Sulit sekali untuk “dibenarkan” kembali. Akhirnya, dia dapat dengan mudah menguasai anda apabila “Perang Pikiran” benar-benar terjadi. Ketika anda sudah dikuasai, dialah pemenangnya.

Dengan semangat Kebangkitan Nasional, hendaknya kita harus lebih berhati-hati terhadap orang-orang yang hipokrit. Orang seperti itu hanya menyesatkan bangsa. Saya tidak mengetahui cara untuk menentukan bahwa seseorang hipokrit atau bukan. Kuncinya adalah anda harus lebih cerdas dan lebih punya passion di dalam hidup ini. Jangan mudah terpengaruh dengan sesuatu yang tidak masuk akal, sesuatu yang janggal.

Bebaskan Negara dari Orang-orang Hipokrit!

Salam,

-IT-

Tuduhan Tidak Berdasar April 30, 2008

Posted by irvan132 in Keluh Kesah.
Tags: ,
8 comments

Tidak hanya di dunia maya saja ada kasus tuduh menuduh yang mendiskreditkan seseorang, tetapi di dunia nyata pun ini juga terjadi. Kalau di dunia maya, kasus yang cukup kontroversial adalah ketika terjadi tuduh menuduh yang menyerang para blogger. Sedangkan di dunia nyata, kasus yang sedang hangat adalah tuduhan salah satu Presiden terhadap wartawan senior dalam kasus percobaan pembunuhan.

Coba anda bayangkan apakah pantas Presiden bersikap “tembak langsung” tanpa berpikir lebih dalam ketika menuduh seseorang? Apalagi yang dituduhkan adalah kasus yang sangat keras yaitu percobaan pembunuhan. Di sisi lain, Presiden ini merupakan orang yang meraih hadiah Nobel Perdamaian. Sepertinya tampak absurd sekali.

Tuduh menuduh memang enak dilakukan ketika kita sedang berada di dalam keadaan terpojok, di dalam hal ini sebagai korban. Terlebih, yang menyangkut nyawa manusia. Akan tetapi, tuduhan yang ditujukan tidak boleh sembarangan. Menuduh boleh, tetapi disertai dengan bukti dan fakta yang relevan. Jangan asal tuduh saja.

Kalau asal tuduh saja, itu seperti seseorang yang tidak pernah mengecap bangku sekolah. Ditambah lagi, menuduh seseorang di depan media massa internasional. Ini sama saja dengan membunuh karakter seseorang secara pribadi. Tidak jarang pula, negara si tertuduh juga dicap “miring” terkait dengan semua tuduhan terhadapnya.

Maka itu, kalau mau menuduh seseorang harus belajar dulu. Belajar menemukan bukti dan fakta, tidak sekadar asumsi-asumsi belaka. Kalau hanya berdasarkan asumsi, itu dukun namanya. 😀 Katanya Presiden, peraih Nobel, sekaligus orang yang menjunjung tinggi Hak Asasi Manusia (HAM). Kalau masalah tuduh menuduh saja tidak dapat diselesaikan, lebih baik mundur saja jadi Presiden.

Salam,

-IT-

Ada Kopdar, Ada Makanan April 27, 2008

Posted by irvan132 in Keluh Kesah.
Tags: , ,
22 comments

Kalau berbicara tentang Kopdar, Gathering, Coffee Land, apapun namanya, suasana ramai sudah menjadi hal yang biasa. Ramai karena semua orang datang, berkumpul, dan bercengkrama satu sama lain. Keramaian juga terjadi ketika acara Kopdar komunitas blogger Bandung, Batagor, yang berlangsung hari minggu. Tidak hanya para blogger yang hadir di sana, tetapi juga komunitas Pivijis Flexter (Flexi mania) dan komunitas Linux (Linux mania). Bertempat di Taman Lanjut Usia (Lansia) Bandung dengan acara utama adalah membersihkan lingkungan dari sampah. Setelah bebersih sampah, ada juga games-games lucu dan seru agar suasana selalu fun.

Akan tetapi, bukan kebebasan™ namanya jika hanya membahas hal-hal yang bersifat biasa dan terkesan klise seperti di atas. Hal yang akan saya bahas adalah makanan. Saya ambil tema ini karena pertemuan yang indah tidak hanya berkesan dengan kehadiran, tetapi juga makanan apa yang disajikan di dalam pertemuan itu. Mungkin anda kurang menyadari pentingnya arti makanan. Oleh karena itu, mulai sekarang, cobalah untuk lebih bijak dalam melihat makanan di dalam pertemuan. 🙂

Bagaimana pun, makanan atau lebih sering dikenal sebagai konsumsi, menentukan sikap untuk datang ke dalam setiap pertemuan. Bukan berpikir bahwa tidak datang jika tidak ada makanan. Bukan itu. Ini lebih ke arah keputusan yang diambil untuk datang atau tidak. Dengan adanya makanan, keputusan akan terpengaruh. Akan tetapi, jangan terlalu naïf bahwa ini sikap mengemis makanan. Tidak sama sekali. Silakan buang jauh-jauh pemikiran seperti itu.

Berikut ini daftar makanan dan minuman yang hadir ketika Kopdar Batagor Jilid 3:

Poster Bebersih Batagor.

Starbucks Crew.

Kopi Starbucks.

Rumah makan.

Nasi Padang.

Jadi, kesimpulannya adalah bahwa makanan penting di setiap pertemuan. Dia mampu mempengaruhi keputusan anda. Untuk para blogger yang suka Kopdar, saya menyarankan kepada panitia penyelenggara kopdar anda masing-masing agar menyiapkan makanan secukupnya. Tidak perlu mewah, yang penting berkelas. 😛 Sudah saatnya membuat semboyan “Ada kopdar, ada makanan”. Hare gene ga pake makan!

Saya juga mengucapkan terima kasih kepada penyedia makanan dan minuman di acara Kopdar yaitu Flexter (yang membeli nasi padang) dan Starbucks (kopi).

Salam,

-IT-