jump to navigation

Rumah di Dunia Maya Maret 26, 2008

Posted by irvan132 in Keluh Kesah.
Tags: ,
12 comments

Saya sering sekali mendengar pertanyaan seperti di bawah ini:

  • Kamu punya Friendster (FS)?
  • Alamat blog kamu apa?
  • Sudah join sama Facebook?
  • Aktif di forum apa saja kalau sedang online?

Kemungkinan besar, anda juga sudah pernah mendengar pertanyaan-pertanyaan seperti itu. Atau malahan anda sering dilontari pertanyaan semacam itu. Wajar saja, sekarang ini, rata-rata orang sudah familiar dengan layanan-layanan online tersebut. Orang beramai-ramai bergabung dan berinteraksi satu sama lain di dalamnya.

Tidak berlebihan kalau saya sebut layanan-layanan di atas merupakan rumah kita di dunia maya. Dahulu, rumah jenis ini hanya terbatas pada email dan website pribadi. Seseorang dikatakan sudah “melek” internet jika dia sudah fasih di dalam berkirim email. Seiring perkembangan teknologi, rumah di dunia maya sudah lebih bervariasi. Layanan blog dan social networking (jejaring sosial) sudah memenuhi konten-konten di internet.

Tidak hanya jenis rumah di dunia yang berkembang, fungsi rumah itu pun mengalami pergeseran. Kalau layanan email, berfungsi sebagai identitas diri ketika sedang berkomunikasi di internet. Kalau blog dan jejaring sosial, lebih bertujuan sebagai ajang aktualisasi diri. Memiliki identitas saja tidak cukup, perlu ada ajang aktualisasi diri yang menyatakan bahwa anda itu benar-benar ada. You really exist. Hal ini lumrah, karena itu merupakan bagian dari fitrah manusia yang membutuhkan manusia lain (makhluk sosial).

Oleh sebab itu, memiliki rumah di dunia maya sudah menjadi keharusan. Setidaknya, dunia maya bisa dijadikan komplemen/pelengkap dunia nyata bahwa anda itu benar-benar ada ketika kita tidak bisa berkomunikasi secara verbal karena keterbatasan antara ruang dan waktu. Tidak ada kata terlambat untuk memulai membuat rumah di internet sekarang. Mulai saja dulu dari yang sederhana, seperti 5 W (what, who, where, when, why) + 1 H (how) tentang diri anda. Setelah semua fondasi terbangun dengan kokoh, bangunlah rumah anda itu dengan kreatifitas dan cita rasa anda masing-masing. 😀

Salam,

-IT-

Era Pemblokan Dimulai Maret 24, 2008

Posted by irvan132 in Teknologi.
Tags: ,
19 comments

Setelah sekian lama, akhirnya era ini bakal terjadi juga. Situs-situs porno akan diblok untuk internet di Indonesia pada bulan April nanti. Ini merupakan salah satu kebijakan pemerintah yang bertujuan meminimalisasi penyalahgunaan internet. Secara teknis, pemblokan situs-situs ini akan terjadi di dalam 3 layer. Layer pertama adalah pemblokan dari pengguna internet itu sendiri. Jadi, pemerintah akan menyediakan software khusus yang dapat di-download dan diinstal di komputer pengguna. Layer kedua adalah pemblokan dari institusi-institusi di Indonesia. Maksudnya adalah seorang administrator jaringan dapat memblok dari gateway mereka masing-masing. Terakhir, adalah layer ketiga. Di sini pemblokan dilakukan di level Internet Service Provider (ISP). Sepertinya filter akan dipasang di jaringan Indonesia Internet eXchange (IIX).

Kalau menurut saya, ini upaya yang cukup selektif untuk menyikapi perkembangan internet saat ini, khususnya di Indonesia. Sangat selektif karena pemerintah tidak melakukan blok besar-besaran terhadap konten di internet. Kita mengetahui bersama bahwa konten di internet tidak ada batasnya. Konten-konten porno hanya sebagian kecil saja. Masih banyak sebenarnya konten-konten yang “lebih” mematikan daripada situs-situs “biru” yang sekarang berkembang. Contoh saja, konten-konten yang bersentuhan langsung dengan SARA banyak sekali. Mungkin konten seperti itu tidak termasuk di dalam kategori porno, tetapi dampak akibatnya bisa sama mematikan dengan situs-situs dewasa. 🙂

Tidak hanya konten-konten yang berbau SARA saja, konten seperti cracking, carding, file sharing, dll juga bisa berdampak buruk jika digunakan untuk hal-hal yang dilarang. Dan lagi-lagi, itu merupakan bagian dari dunia internet yang sangat luas itu. Semua orang bisa berpartisipasi menyediakan konten apa saja di internet. Yang dapat membatasi ini hanyalah konten itu sendiri. Analoginya kira-kira seperti ini, tidak mungkin ada orang yang membeli, jika barangnya tidak ada (nihil) di pasaran. Anggap saja, barang yang saya maksud di sini adalah konten. Nah, jika konten tidak tersedia, maka orang pasti tidak ada keinginan memiliki (membeli).

Kembali ke topik tulisan. Saya sangat setuju adanya pemblokan terhadap situs-situs porno karena jelas banyak bahayanya dibandingkan manfaatnya. 😀 Akan tetapi, saya sangat tidak setuju terhadap pembatasan konten-konten di intenet. Maksudnya adalah ketika ada kelanjutan pemblokan terhadap konten selain porno yang “dilarang” pihak-pihak tertentu. Entah karena hal-hal tertentu atau kebijakan satu pihak belaka. Ini yang bermasalah. Kalau internet sudah dikuasai satu orang saja, nilai objektifitas akan turun drastis. Tidak akan ada lagi yang namanya kontrol sosial. Sama seperti media massa yang “masih” dikuasai oleh sebagian orang saja. Pasti ada saja tekanan sana-sini di dalamnya. Bagaimana tidak, information is the power. Orang yang kuat adalah orang yang mengetahui informasi. Oleh sebab itu, semoga saja tidak terjadi pemblokan berkelanjutan di internet Indonesia. Kalau situs-situs “biru” boleh saja, tetapi tidak untuk informasi underground lainnya. Karena biasanya informasi dari komunitas underground sangat objektif untuk dipelajari dan dianalisis. 😀

Salam,

-IT-

Kemampuan “Googling” Februari 28, 2008

Posted by irvan132 in Teknologi.
Tags: , ,
28 comments

Google sudah menjadi kebutuhan “wajib” jika kita sedang berselancar di dunia maya. Saya yakin bahwa search engine satu ini merupakan salah satu tujuan utama jika kita sedang ingin mencari sesuatu di internet. Bahkan, jika tanpa Google, sepertinya ada sesuatu yang hilang ketika kita sedang berinternet. 😛

Yang akan saya sampaikan di sini adalah pentingnya kemampuan googling itu sendiri. Kemampuan googling bisa memberikan suatu hasil yang berbeda ketika 2 orang sedang melakukan pencarian terhadap suatu topik yang sama di dalam waktu melakukan browsing yang sama pula. Orang dengan kemampuan googling tinggi dapat secara presisi (akurat) atau setidaknya mendekati objek yang dimaksud jika dibandingkan dengan orang dengan kemampuan googling biasa-biasa saja.

Memang, kemampuan googling belum bisa diukur secara kuantitatif. Belum ada pendekatan pengukuran yang cocok. Akan tetapi, secara kualitatif, kemampuan googling akan terlihat jelas. Sebagai contoh, orang yang berpengalaman dalam googling bisa dengan cepat menemukan sesuatu yang sudah lama dicari oleh orang yang kemampuang googling-nya biasa saja. Itu contoh kecil saja. Sebenarnya masih banyak yang lain contoh yang membuktikan bahwa kemampuan googling itu penting.

Hal yang sering membuat saya sedikit “kesal” ketika seseorang menanyakan pertanyaan yang sangat umum sekali sebelum dia mencari di Google. Jika satu atau dua kali bertanya, masih enak dijawab. Akan tetapi, jika sudah puluhan kali ditanyakan tanpa googling terlebih dahulu, tentu saja itu membuat jengkel. Pertanyaan yang seharusnya “mampu” dijawab oleh Google, ditanyakan kembali secara berulang-ulang. Repot juga. Karena tidak mau mengambil pusing, saya katakan saja kepada penanya apakah jawabannya sudah dicari di Google. 😦

Maksud saya dari tulisan ini adalah bahwa kemampuan googling itu penting. Kita tidak perlu berdebat lagi bahwa “semua” itu ada di internet. Yang perlu kita lakukan adalah mencarinya sampai dapat. Nah, kemampuan mencari ini berkaitan sekali dengan kemampuan googling itu sendiri. Dengan kata lain, kemampuan googling sangat menentukan. Tidak hanya koneksi internet yang kencang, tetapi juga kemampuan googling anda harus maksimal agar pencarian anda berhasil. 😀

Salam,

-IT-

“Pengecut” Cyber Februari 23, 2008

Posted by irvan132 in Kehidupan.
Tags: ,
17 comments

Ada yang tahu istilah tersebut? Kalau menurut saya, Pengecut Cyber adalah orang yang:

  1. Berbicara tidak jelas dan bernada tendensius ketika sedang berada di sebuah forum, mailing list, maupun blog di internet.
  2. Menggunakan user-id yang sangat mengundang perhatian orang lain.
  3. Banyak berkelit ketika dimintai konfirmasi tentang bukti, dan menjawab hanya berdasarkan asumsi-asumsi kosong belaka.
  4. Tidak memiliki informasi personal yang jelas.
  5. Tidak mau diajak bertemu secara langsung (face to face) atau komunikasi secara verbal.

Kalau menurut anda bagaimana? Apakah ada tambahan lain? 😀

Salam,

-IT-